
Tren gaya hidup generasi muda selalu menjadi sorotan. Jika generasi sebelumnya sering mengasosiasikan kesuksesan dengan kepemilikan barang mewah, seperti mobil sport, tas branded, atau jam tangan mahal, kini arah tersebut perlahan bergeser. Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, justru lebih menaruh perhatian pada pengalaman hidup dibandingkan sekadar mengoleksi benda-benda mewah.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Perubahan paradigma tersebut dinilai mencerminkan pergeseran nilai dari materialisme menuju gaya hidup yang lebih berbasis pengalaman dan kepuasan emosional.
Fenomena Pergeseran Prioritas
Berdasarkan laporan Global Lifestyle Survey 2025, lebih dari 68% Gen Z di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menyatakan bahwa mereka lebih rela mengalokasikan uang untuk perjalanan, konser musik, kuliner unik, hingga kegiatan rekreasi dibandingkan membeli barang mewah.
“Bagi saya, pengalaman berkesan itu lebih lama melekat daripada sekadar tas atau sepatu mahal. Liburan bareng teman, ikut festival musik, atau mencoba restoran baru memberi cerita yang bisa diingat seumur hidup,” ujar Rani (23 tahun), mahasiswa asal Jakarta.
Faktor Pendorong Tren Ini
Ada beberapa alasan mengapa generasi Z lebih memprioritaskan pengalaman ketimbang barang mewah:
-
Digitalisasi dan Media Sosial
Media sosial mendorong Gen Z untuk membagikan momen berharga mereka. Foto traveling, video menghadiri konser, atau konten vlog kuliner dianggap lebih menarik dibandingkan sekadar memamerkan tas atau gadget mahal. -
Nilai Kebersamaan
Gen Z tumbuh di era kolaboratif. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama teman atau komunitas, sehingga pengalaman sosial dianggap lebih berharga. -
Kesadaran Finansial
Banyak anak muda kini lebih realistis dengan kondisi ekonomi. Mereka memilih mengalokasikan dana ke hal yang memberikan manfaat emosional jangka panjang daripada sekadar mengejar simbol status. -
Pengaruh Pandemi
Pengalaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu mengubah pandangan hidup generasi muda. Mereka belajar bahwa waktu dan kesempatan untuk menikmati hidup bersama orang terdekat lebih penting daripada benda fisik.
Dampak terhadap Industri
Fenomena ini memunculkan dampak signifikan terhadap berbagai sektor:
-
Pariwisata dan Travel
Agen perjalanan, maskapai, hingga aplikasi booking hotel mengalami peningkatan permintaan dari anak muda. Tren liburan singkat atau staycation semakin populer. -
Industri Hiburan
Konser musik internasional maupun festival lokal kini dipenuhi penonton Gen Z yang rela antre tiket jauh hari sebelumnya. -
Kuliner dan Lifestyle
Restoran dengan konsep unik, kafe tematik, hingga wisata kuliner digital kini jadi magnet utama bagi mereka yang ingin mencari pengalaman baru. -
Ekonomi Kreatif
Kreator konten dan pelaku industri kreatif mendapat keuntungan karena Gen Z selalu mencari aktivitas baru yang bisa dibagikan di platform digital.
Barang Mewah Tetap Punya Pasar, Tapi…
Meski tren pengalaman semakin mendominasi, bukan berarti barang mewah kehilangan daya tarik sepenuhnya. Namun, pola konsumsi Gen Z terhadap barang mewah berbeda.
Alih-alih membeli hanya untuk menunjukkan status, mereka lebih tertarik pada nilai personal dan keberlanjutan. Brand yang menawarkan produk ramah lingkungan, limited edition, atau punya cerita autentik masih mendapat tempat di hati Gen Z.
“Kalau saya membeli barang branded, biasanya karena ada makna atau value tertentu, bukan semata-mata biar dianggap keren,” kata Kevin (25 tahun), seorang karyawan startup di Bandung.
Pengalaman sebagai Investasi Sosial
Pengalaman yang dikumpulkan Gen Z tidak hanya menjadi kenangan pribadi, tetapi juga berfungsi sebagai investasi sosial. Dengan membagikan momen-momen tersebut di media sosial, mereka memperluas jaringan, membangun identitas digital, sekaligus menciptakan interaksi baru.
Hal ini menjelaskan mengapa fenomena “fear of missing out” (FOMO) sering ditemui di kalangan Gen Z. Mereka tidak ingin ketinggalan momen penting, seperti konser artis favorit atau event komunitas populer, karena itu dianggap bagian dari eksistensi sosial.
Perubahan Pola Belanja di Indonesia
Di Indonesia, tren ini terlihat jelas pada meningkatnya popularitas aplikasi tiket online, platform traveling, hingga marketplace yang menawarkan pengalaman digital seperti kelas virtual, workshop, hingga tur kuliner.
Menurut data Asosiasi E-commerce Indonesia (2025), belanja untuk kategori experience-based naik sekitar 45% dibanding tahun lalu, sementara penjualan barang mewah relatif stagnan.
Tantangan dan Peluang
Perubahan preferensi generasi Z menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia bisnis:
-
Tantangan: Brand barang mewah harus menyesuaikan strategi agar tetap relevan. Sekadar menjual logo besar tidak lagi cukup untuk menarik hati Gen Z.
-
Peluang: Industri berbasis pengalaman seperti pariwisata, hiburan, hingga event organizer memiliki peluang emas untuk tumbuh pesat.