NEWSINDO.ID – Setelah istilah quiet quitting, burnout, hingga doomscrolling ramai dibahas dalam beberapa tahun terakhir, kini muncul tren baru yang mulai banyak diperbincangkan di kalangan Generasi Z, yakni quiet thriving. Konsep ini dinilai sebagai respons terhadap budaya yang menuntut seseorang untuk selalu sibuk, produktif, dan terus menunjukkan pencapaian di media sosial.
Berbeda dengan anggapan bahwa kesuksesan harus selalu terlihat dari aktivitas yang padat, quiet thriving justru mengajak seseorang untuk berkembang secara konsisten tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. Tren ini menarik perhatian karena semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa produktivitas tidak selalu identik dengan bekerja tanpa henti.
Di tengah meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental, pendekatan seperti quiet thriving menjadi alternatif yang lebih sehat. Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi membangun kehidupan yang seimbang antara pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, dan waktu untuk diri sendiri.
Lantas, apa sebenarnya quiet thriving, mengapa konsep ini semakin populer di kalangan Gen Z, dan bagaimana cara menerapkannya? Berikut ulasan lengkapnya.
Apa Itu Quiet Thriving?
Quiet thriving dapat diartikan sebagai upaya untuk terus berkembang secara pribadi maupun profesional tanpa merasa perlu menunjukkan semua pencapaian kepada orang lain.
Seseorang yang menerapkan konsep ini tetap memiliki target hidup, bekerja dengan baik, serta mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menjadikan validasi dari media sosial sebagai ukuran keberhasilan.
Dengan kata lain, seseorang fokus pada pertumbuhan diri, bukan pada pengakuan publik.
Konsep ini muncul sebagai penyeimbang dari budaya “selalu terlihat sukses” yang selama ini banyak dipengaruhi oleh media sosial.
Mengapa Quiet Thriving Semakin Populer?
Ada beberapa alasan mengapa tren ini mulai banyak diminati oleh Gen Z.
1. Meningkatnya Kesadaran akan Kesehatan Mental
Banyak anak muda mulai memahami bahwa tekanan untuk selalu tampil sempurna dapat memengaruhi kondisi psikologis.
Mereka mulai mencari cara hidup yang lebih tenang dan realistis.
2. Kelelahan Akibat Budaya Hustle
Selama bertahun-tahun, budaya hustle mendorong seseorang untuk terus bekerja tanpa mengenal waktu.
Kini semakin banyak orang menyadari bahwa pola tersebut tidak selalu berkelanjutan.
3. Pengaruh Media Sosial
Media sosial sering menampilkan pencapaian orang lain tanpa memperlihatkan perjuangan di baliknya.
Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal meskipun sebenarnya memiliki perkembangan yang baik.
Quiet thriving mengajak seseorang berhenti membandingkan diri secara berlebihan.
4. Fokus pada Kualitas Hidup
Generasi muda mulai menganggap bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari penghasilan tinggi atau jabatan, tetapi juga dari kesehatan fisik, hubungan yang baik, dan ketenangan pikiran.
Perbedaan Quiet Thriving dengan Quiet Quitting
Meski terdengar mirip, keduanya memiliki makna yang berbeda.
Quiet quitting mengacu pada kebiasaan bekerja sesuai tanggung jawab tanpa memberikan usaha berlebihan di luar pekerjaan.
Sementara itu, quiet thriving menekankan pertumbuhan diri secara positif tanpa harus mencari perhatian.
Orang yang menjalankan quiet thriving tetap berusaha memberikan hasil terbaik, namun tetap menjaga batasan agar tidak mengalami burnout.
Dampak Positif Quiet Thriving terhadap Kesehatan Mental
Menerapkan konsep ini dapat memberikan berbagai manfaat.
Mengurangi Tekanan Sosial
Seseorang tidak lagi merasa harus selalu memperlihatkan pencapaiannya kepada orang lain.
Menurunkan Risiko Burnout
Dengan menetapkan batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tubuh memiliki waktu untuk beristirahat.
Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Kepercayaan diri dibangun berdasarkan perkembangan pribadi, bukan jumlah “like” atau komentar di media sosial.
Hubungan Sosial Menjadi Lebih Berkualitas
Interaksi dilakukan karena benar-benar ingin membangun hubungan, bukan demi pencitraan.
Hidup Lebih Seimbang
Seseorang memiliki waktu untuk keluarga, hobi, olahraga, dan pengembangan diri.
Tantangan Gen Z di Era Digital
Meskipun konsep quiet thriving terdengar sederhana, penerapannya tidak selalu mudah.
Beberapa tantangan yang sering dihadapi Gen Z meliputi:
- Tekanan akademik.
- Persaingan mencari pekerjaan.
- Biaya hidup yang meningkat.
- Paparan media sosial hampir sepanjang hari.
- Fear of Missing Out (FOMO).
- Standar kesuksesan yang tidak realistis.
Karena itu, menjaga kesehatan mental membutuhkan usaha yang dilakukan secara konsisten.
10 Cara Menerapkan Quiet Thriving
1. Tentukan Definisi Sukses Versi Diri Sendiri
Jangan biarkan standar orang lain menentukan arah hidup Anda.
Tuliskan tujuan yang benar-benar sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi.
2. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri
Ingat bahwa media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil kehidupan seseorang.
3. Tetapkan Batasan Kerja
Hindari kebiasaan membalas pesan pekerjaan sepanjang waktu jika tidak mendesak.
4. Jadwalkan Waktu Istirahat
Produktivitas justru meningkat ketika tubuh memperoleh waktu untuk memulihkan energi.
5. Bangun Kebiasaan Hidup Sehat
Tidur cukup, makan bergizi, dan olahraga rutin membantu menjaga keseimbangan fisik maupun mental.
6. Kurangi Doomscrolling
Batasi waktu membaca berita negatif atau scrolling media sosial secara berlebihan.
7. Fokus pada Kemajuan Kecil
Tidak semua perkembangan harus terjadi secara cepat.
Kemajuan sedikit demi sedikit tetap merupakan pencapaian.
8. Rawat Hubungan dengan Orang Terdekat
Dukungan keluarga dan teman merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.
9. Luangkan Waktu untuk Hobi
Melakukan aktivitas yang disukai membantu mengurangi stres sekaligus meningkatkan kreativitas.
10. Jangan Ragu Meminta Bantuan
Jika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasilah dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental.
Peran Gaya Hidup Sehat dalam Mendukung Kesehatan Mental
Quiet thriving tidak hanya berkaitan dengan pola pikir, tetapi juga kebiasaan sehari-hari.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
Tidur Berkualitas
Usahakan tidur 7–9 jam setiap malam agar otak dapat memulihkan fungsi kognitif dan emosional.
Konsumsi Makanan Bergizi
Sayuran, buah-buahan, protein tanpa lemak, ikan, dan biji-bijian membantu mendukung kesehatan otak.
Rutin Berolahraga
Aktivitas fisik membantu meningkatkan produksi endorfin yang berperan dalam memperbaiki suasana hati.
Latihan Pernapasan atau Mindfulness
Beberapa menit latihan pernapasan setiap hari dapat membantu mengurangi stres.
Tanda Anda Perlu Mengevaluasi Gaya Hidup
Meskipun sudah berusaha menjalani kehidupan yang seimbang, beberapa tanda berikut menunjukkan bahwa Anda perlu melakukan evaluasi:
- Mudah lelah setiap hari.
- Sulit tidur.
- Kehilangan motivasi.
- Sulit menikmati waktu luang.
- Selalu merasa bersalah ketika beristirahat.
- Merasa hidup hanya berisi pekerjaan atau tugas.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, penting untuk mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional.
Mengapa Quiet Thriving Berpotensi Menjadi Gaya Hidup Masa Depan?
Perubahan cara pandang terhadap kesuksesan menunjukkan bahwa masyarakat mulai lebih menghargai kesehatan mental dibanding sekadar pencapaian materi.
Banyak perusahaan juga mulai memperhatikan kesejahteraan karyawan melalui kebijakan kerja yang lebih fleksibel, dukungan terhadap kesehatan mental, hingga program keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Di sisi lain, semakin banyak konten kreator, komunitas, dan organisasi yang mengampanyekan pentingnya hidup secara sadar, menjaga batasan, serta menghargai proses.
Hal ini menunjukkan bahwa quiet thriving bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari perubahan budaya menuju kehidupan yang lebih sehat.
Kesimpulan
Fenomena quiet thriving menjadi salah satu refleksi perubahan cara pandang Gen Z terhadap kesuksesan dan kualitas hidup. Di tengah tekanan media sosial, persaingan karier, dan budaya yang mengagungkan kesibukan, semakin banyak anak muda memilih untuk berkembang secara konsisten tanpa harus selalu mencari pengakuan dari orang lain.
Dengan menetapkan batasan yang sehat, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, menjaga pola hidup sehat, dan memprioritaskan kesehatan mental, seseorang dapat tetap bertumbuh tanpa kehilangan keseimbangan hidup.
Pada akhirnya, keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, melainkan dari kemampuan menjalani kehidupan yang bermakna, sehat, dan berkelanjutan. Itulah esensi quiet thriving yang kini semakin relevan bagi Gen Z di tengah dinamika era digital.