Mengenal tren underconsumption yang mendorong masyarakat membeli lebih sedikit dan menggunakan barang lebih lama. Simak alasan, manfaat, dan cara menerapkannya.
Bukan Pelit, Ini Alasan Tren Underconsumption Mulai Dilirik Generasi Digital
Punya barang baru memang menyenangkan.
Sepatu baru.
Ponsel terbaru.
Baju dengan model terkini.
Skincare yang sedang viral.
Peralatan rumah yang terlihat menarik di media sosial.
Semua terasa seperti bagian dari gaya hidup modern.
Masalahnya, dunia digital membuat keinginan untuk membeli sesuatu menjadi jauh lebih mudah muncul.
Kita tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan.
Cukup membuka smartphone.
Satu video menampilkan produk baru.
Video berikutnya memberikan rekomendasi lain.
Kemudian muncul ulasan.
Setelah itu ada promosi.
Belum selesai berpikir, notifikasi diskon muncul.
Dalam beberapa menit, keinginan yang sebelumnya tidak ada bisa berubah menjadi keputusan pembelian.
Di tengah kondisi tersebut, muncul sebuah istilah yang menarik perhatian: underconsumption.
Secara sederhana, underconsumption merupakan kecenderungan untuk mengurangi konsumsi yang tidak perlu, memanfaatkan barang yang sudah dimiliki, membeli sesuai kebutuhan, dan tidak merasa harus terus mengikuti tren.
Ini bukan berarti seseorang harus hidup tanpa membeli sesuatu.
Bukan pula berarti semua orang harus menjadi minimalis ekstrem.
Justru, inti dari tren ini cukup sederhana:
berhenti membeli hanya karena merasa harus membeli.
Apa Itu Underconsumption?
Underconsumption dapat dipahami sebagai gaya hidup yang lebih sadar terhadap konsumsi.
Seseorang tidak otomatis membeli barang baru hanya karena ada versi terbaru.
Jika barang lama masih berfungsi, ia akan terus menggunakannya.
Jika membutuhkan sesuatu, ia mempertimbangkan apakah benar-benar perlu membelinya.
Jika menemukan promo, ia tidak langsung menganggapnya sebagai kesempatan yang harus diambil.
Dengan kata lain, keputusan membeli kembali dikembalikan kepada kebutuhan.
Hal ini berbeda dengan pola konsumsi impulsif yang sering dipicu oleh diskon, tren, FOMO, atau rekomendasi algoritma.
Underconsumption juga tidak selalu berarti membeli barang paling murah.
Seseorang bisa saja membeli produk berkualitas lebih tinggi, tetapi menggunakannya dalam waktu lama.
Jadi, ukurannya bukan sekadar berapa murah barang yang dibeli.
Melainkan:
seberapa sadar seseorang terhadap apa yang benar-benar ia konsumsi.
Mengapa Tren Ini Muncul di Era Media Sosial?
Media sosial mengubah cara masyarakat melihat barang.
Dulu, seseorang mungkin mengetahui produk baru melalui iklan televisi, majalah, atau teman.
Sekarang, produk dapat muncul berkali-kali dalam sehari.
Influencer menggunakan produk tertentu.
Teman mengunggah barang baru.
Marketplace memberikan rekomendasi.
Algoritma menampilkan video unboxing.
Kemudian muncul konten “barang yang wajib dimiliki”.
Paparan berulang dapat menciptakan persepsi bahwa sesuatu merupakan kebutuhan.
Padahal belum tentu.
Misalnya seseorang sudah memiliki lima botol minum.
Kemudian melihat botol baru dengan desain yang lebih menarik.
Secara fungsi, botol tersebut mungkin tidak jauh berbeda.
Namun, karena tampilannya menarik dan sedang populer, muncul keinginan untuk membeli.
Inilah salah satu situasi yang coba dipertanyakan oleh gerakan underconsumption.
Apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut, atau hanya menginginkannya karena terus melihatnya?
Budaya “Harus Punya yang Terbaru”
Teknologi menjadi salah satu contoh paling jelas.
Setiap tahun muncul smartphone baru.
Spesifikasinya meningkat.
Kameranya lebih canggih.
Desain berubah.
Fitur bertambah.
Pertanyaannya:
Apakah semua orang harus mengganti smartphone setiap tahun?
Tentu tidak.
Jika perangkat yang digunakan masih memenuhi kebutuhan, mengganti perangkat bukan sesuatu yang wajib dilakukan hanya karena model baru telah muncul.
Hal yang sama berlaku pada laptop, smartwatch, headphone, kamera, dan perangkat elektronik lainnya.
Underconsumption mengajak konsumen memisahkan antara:
“produk saya sudah tidak memenuhi kebutuhan”
dan
“produk baru terlihat lebih menarik.”
Keduanya adalah alasan yang berbeda.
Diskon Tidak Selalu Berarti Hemat
Ini mungkin bagian yang paling sulit diterapkan.
Kita sering melihat:
Diskon 50 persen.
Buy 1 Get 1.
Gratis ongkir.
Flash sale.
Voucher terbatas.
Secara psikologis, kata-kata tersebut dapat menciptakan rasa urgensi.
Kita merasa sedang menghemat uang.
Namun ada pertanyaan yang sering terlupakan:
“Kalau tidak ada diskon, apakah saya tetap akan membeli barang ini?”
Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar kita sebenarnya tidak sedang menghemat.
Kita sedang mengeluarkan uang untuk sesuatu yang awalnya tidak direncanakan.
Diskon memang dapat mengurangi harga sebuah barang.
Tetapi tidak otomatis mengurangi total pengeluaran.
Underconsumption Bukan Berarti Harus Anti-Belanja
Kesalahpahaman lain adalah menganggap underconsumption berarti seseorang tidak boleh berbelanja.
Padahal, manusia tetap membutuhkan barang.
Pakaian perlu diganti ketika sudah rusak.
Peralatan kerja mungkin perlu diperbarui.
Elektronik dapat mengalami kerusakan.
Kebutuhan rumah tangga harus dibeli secara berkala.
Masalahnya bukan aktivitas belanja.
Masalahnya adalah konsumsi yang tidak disadari.
Membeli barang yang dibutuhkan merupakan hal wajar.
Membeli barang karena takut tertinggal tren merupakan hal yang perlu dipertimbangkan kembali.
Menggunakan Barang Sampai Benar-Benar Maksimal
Salah satu prinsip paling sederhana dalam underconsumption adalah memperpanjang umur barang.
Baju yang masih bagus tidak perlu diganti hanya karena model baru keluar.
Tas yang masih berfungsi tidak harus diganti karena melihat tas baru di media sosial.
Furnitur rumah yang masih layak digunakan tidak otomatis harus diperbarui.
Bahkan barang sederhana seperti kabel charger, wadah makanan, botol minum, dan perlengkapan rumah dapat digunakan lebih lama jika dirawat dengan baik.
Kebiasaan tersebut memiliki dua keuntungan.
Pertama, pengeluaran dapat lebih terkendali.
Kedua, jumlah barang yang masuk ke rumah menjadi lebih sedikit.
Mengapa Rumah Bisa Terasa Penuh Padahal Jarang Merasa Membeli?
Pernah merasa tidak membeli banyak barang, tetapi lemari tetap penuh?
Ini bisa terjadi karena konsumsi kecil yang dilakukan berulang kali.
Satu baju.
Satu kosmetik.
Satu aksesori.
Satu gadget kecil.
Satu dekorasi.
Satu produk yang sedang viral.
Masing-masing terlihat tidak terlalu banyak.
Namun, dalam setahun jumlahnya bisa menjadi puluhan atau bahkan ratusan.
Karena itu, masalah konsumsi tidak selalu terlihat dalam satu transaksi.
Yang perlu diperhatikan adalah pola dalam jangka panjang.
Fenomena “Dupe” Juga Menarik untuk Diamati
Di internet, istilah dupe sering digunakan untuk menyebut produk yang dianggap memiliki kemiripan dengan produk lain, biasanya dengan harga lebih terjangkau.
Fenomena ini menunjukkan perubahan perilaku konsumen.
Orang tidak selalu ingin membeli barang paling mahal.
Mereka mencari alternatif yang dianggap memberikan fungsi atau tampilan serupa.
Namun, dari perspektif underconsumption, ada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan?
Membeli produk murah dalam jumlah banyak tetap dapat menghasilkan konsumsi berlebihan.
Harga rendah bukan alasan otomatis untuk membeli lebih banyak.
Mengapa Generasi Muda Mulai Memikirkan Kembali Cara Belanja?
Generasi yang tumbuh bersama internet memiliki hubungan yang sangat dekat dengan perdagangan digital.
Marketplace berada di smartphone.
Promosi muncul di media sosial.
Pembayaran dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Review pembeli tersedia hampir di setiap produk.
Kemudahan tersebut memang memberikan banyak manfaat.
Namun, semakin mudah seseorang membeli sesuatu, semakin penting pula kemampuan untuk mengatakan:
“Tidak.”
Bukan karena tidak mampu membeli.
Tetapi karena tidak membutuhkannya.
Di sinilah underconsumption menjadi menarik sebagai fenomena sosial.
Gaya Hidup “Pakai Sampai Habis” Kembali Mendapat Tempat
Salah satu contoh paling sederhana dapat ditemukan pada produk perawatan pribadi.
Alih-alih memiliki lima produk dengan fungsi serupa, seseorang memilih menghabiskan satu produk terlebih dahulu.
Ketika habis, baru membeli pengganti.
Konsep ini sederhana.
Tetapi berbeda dengan budaya mencoba produk baru setiap kali melihat sesuatu yang viral.
Hal yang sama dapat diterapkan pada pakaian.
Jika memiliki banyak pakaian yang jarang digunakan, mungkin tidak perlu membeli tambahan dalam beberapa bulan.
Bukan berarti tidak boleh membeli pakaian baru.
Tetapi berikan kesempatan kepada barang yang sudah dimiliki untuk benar-benar digunakan.
Cara Memulai Underconsumption Tanpa Menjadi Ekstrem
Anda tidak perlu langsung mengubah seluruh gaya hidup.
Mulailah dari hal sederhana.
1. Terapkan Aturan Tunggu 24 Jam
Jika menemukan barang yang ingin dibeli tetapi tidak mendesak, jangan langsung checkout.
Tunggu setidaknya 24 jam.
Jika setelah itu masih merasa membutuhkan, pertimbangkan kembali.
Untuk barang mahal, masa tunggu dapat dibuat lebih lama.
2. Buat Daftar Sebelum Belanja
Sebelum membuka marketplace, tulis apa yang memang ingin dibeli.
Jika tidak ada dalam daftar, jangan otomatis memasukkannya ke keranjang.
Ini sederhana tetapi dapat mengurangi pembelian impulsif.
3. Gunakan Barang yang Sudah Ada
Sebelum membeli sesuatu, periksa rumah.
Mungkin Anda sebenarnya sudah memiliki barang yang fungsinya sama.
Contohnya:
Ingin membeli wadah baru?
Periksa lemari.
Ingin membeli pakaian baru?
Buka kembali lemari.
Ingin membeli alat dapur?
Lihat isi dapur.
Kadang kita membeli bukan karena tidak punya.
Kita membeli karena lupa bahwa kita sudah punya.
4. Berhenti Mengikuti Semua Tren
Tidak semua tren harus diikuti.
Tren akan terus berganti.
Hari ini produk A populer.
Bulan depan produk B.
Jika terus mengejar semuanya, tidak akan pernah selesai.
Pilih tren yang memang sesuai kebutuhan dan kepribadian.
Sisanya boleh dilewatkan.
5. Kurangi Paparan Konten Belanja
Jika setiap membuka media sosial Anda melihat rekomendasi produk, mungkin masalahnya bukan hanya keinginan belanja.
Lingkungan digital Anda juga berperan.
Kurangi mengikuti akun yang terlalu sering membuat Anda ingin membeli.
Gunakan fitur mute atau berhenti mengikuti jika diperlukan.
Ganti sebagian konten tersebut dengan:
- edukasi,
- olahraga,
- hobi,
- berita,
- ilmu pengetahuan,
- atau konten kreatif.
Apa yang kita lihat setiap hari dapat memengaruhi apa yang kita pikirkan setiap hari.
Underconsumption dan Keuangan Pribadi
Salah satu manfaat paling mudah terlihat dari konsumsi yang lebih sadar adalah pengelolaan uang.
Bayangkan seseorang biasanya melakukan lima pembelian impulsif dalam satu bulan.
Jika sebagian berhasil dikurangi, uang yang sebelumnya keluar dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih penting.
Misalnya:
- dana darurat,
- tabungan,
- pendidikan,
- investasi sesuai profil risiko,
- pengalaman,
- atau kebutuhan keluarga.
Jadi, underconsumption bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang.
Ini juga dapat menjadi cara untuk memberikan prioritas yang lebih jelas terhadap uang.
Tetapi Jangan Sampai Berubah Menjadi Obsesi Menghemat
Ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan.
Hidup hemat bukan berarti setiap pengeluaran harus dianggap salah.
Membeli sesuatu yang memberikan manfaat, kenyamanan, atau kebahagiaan tidak otomatis menjadi perilaku buruk.
Misalnya seseorang membeli sepatu olahraga berkualitas karena memang rutin berlari.
Atau membeli kursi kerja yang lebih nyaman karena bekerja berjam-jam.
Pembelian seperti itu memiliki alasan yang jelas.
Underconsumption seharusnya membantu kita menjadi lebih sadar, bukan membuat kita merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang.
Bedakan “Butuh”, “Ingin”, dan “Terpengaruh”
Sebelum membeli sesuatu, coba gunakan tiga pertanyaan.
Apakah saya membutuhkan ini?
Jika ya, lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
Apakah saya benar-benar menginginkannya?
Jika ya, tanyakan:
Apakah saya menginginkannya karena kebutuhan pribadi atau karena terus melihat orang lain memilikinya?
Tidak ada jawaban yang selalu benar.
Tujuannya bukan melarang pembelian.
Tujuannya adalah membuat keputusan lebih sadar.
Bagaimana Jika Barang Lama Sudah Tidak Layak?
Underconsumption bukan berarti mempertahankan barang yang sudah rusak atau tidak aman digunakan.
Jika barang memang sudah tidak berfungsi, rusak berat, tidak sesuai kebutuhan, atau justru berbahaya, menggantinya merupakan keputusan yang masuk akal.
Contohnya peralatan elektronik yang baterainya bermasalah atau perlengkapan rumah yang sudah tidak aman.
Konsep konsumsi sadar tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menggunakan barang secara tidak aman.
Prinsipnya adalah:
gunakan selama masih layak dan memang bermanfaat.
Manfaat Psikologis Memiliki Lebih Sedikit Barang
Rumah yang lebih sederhana tidak otomatis membuat seseorang lebih bahagia.
Namun, mengurangi barang yang tidak digunakan dapat membuat pengelolaan ruang menjadi lebih mudah.
Lebih sedikit barang berarti:
lebih sedikit yang perlu disimpan,
lebih sedikit yang perlu dibersihkan,
lebih sedikit yang perlu dirawat,
dan lebih sedikit pilihan yang harus dibuat.
Ini terutama terasa pada barang-barang yang sebenarnya tidak pernah digunakan.
Lemari penuh tetapi sebagian besar isinya jarang dipakai.
Rak penuh tetapi banyak barang hanya menjadi pajangan.
Underconsumption mengajak kita bertanya:
“Apakah barang ini masih memiliki fungsi dalam hidup saya?”
Jika jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya mengevaluasinya.
Jangan Terjebak “Underconsumption Core”
Menariknya, tren anti-konsumtif pun dapat berubah menjadi tren konsumtif.
Ada kemungkinan orang membeli barang baru hanya agar terlihat menjalani gaya hidup underconsumption.
Misalnya membeli botol khusus, organizer khusus, pakaian tertentu, atau berbagai produk yang diklaim mendukung gaya hidup minimalis.
Di titik tersebut, pesan awalnya bisa hilang.
Karena itu, jangan sampai:
ingin membeli lebih sedikit
justru menghasilkan:
membeli lebih banyak perlengkapan untuk terlihat hidup sederhana.
Gaya hidup tidak harus memiliki seragam.
Tidak Perlu Membuktikan Gaya Hidup kepada Orang Lain
Salah satu hal menarik dari underconsumption adalah bahwa praktik ini sebenarnya tidak membutuhkan pengakuan publik.
Anda tidak perlu mengunggah semua barang yang berhasil tidak dibeli.
Tidak perlu menunjukkan bahwa Anda hanya memiliki sedikit pakaian.
Tidak perlu membuat konten tentang setiap produk yang berhasil dihindari.
Jika tujuan utamanya adalah hidup lebih sadar, perubahan tersebut tetap memiliki nilai meskipun tidak dilihat orang lain.
Tren Ini Bisa Menjadi Momentum Evaluasi
Pada akhirnya, underconsumption mungkin bukan sekadar tren media sosial.
Ia bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi hubungan kita dengan barang.
Pertanyaan yang dapat diajukan sederhana:
Apa yang sebenarnya saya butuhkan?
Barang apa yang paling sering saya gunakan?
Apa yang saya beli tetapi jarang digunakan?
Berapa banyak pembelian saya yang dipengaruhi promo?
Apakah saya sering membeli karena takut ketinggalan tren?
Apakah barang baru benar-benar meningkatkan kualitas hidup saya?
Pertanyaan tersebut tidak membutuhkan aplikasi.
Tidak membutuhkan metode rumit.
Hanya membutuhkan sedikit kejujuran.
Masa Depan Konsumsi Mungkin Bukan “Lebih Banyak”
Selama bertahun-tahun, pertumbuhan konsumsi sering dikaitkan dengan semakin banyak produk dan pilihan.
Namun, konsumen modern juga semakin memiliki akses terhadap informasi mengenai harga, kualitas, keberlanjutan, limbah, dan dampak pembelian.
Akibatnya, sebagian orang mulai bertanya lebih jauh.
Bukan hanya:
“Apa yang bisa saya beli?”
Tetapi:
“Apakah saya perlu membeli ini?”
Perubahan pertanyaan tersebut mungkin terlihat kecil.
Namun, dampaknya bisa besar jika dilakukan oleh banyak orang.
Kesimpulan
Underconsumption bukan berarti berhenti berbelanja.
Bukan pula ajakan untuk hidup serba kekurangan.
Konsep ini lebih sederhana: mengonsumsi dengan lebih sadar.
Menggunakan barang yang sudah dimiliki.
Membeli ketika memang membutuhkan.
Tidak menjadikan diskon sebagai alasan otomatis untuk checkout.
Tidak merasa wajib mengikuti setiap tren.
Dan tidak menganggap produk terbaru selalu berarti kehidupan yang lebih baik.
Di era ketika smartphone dapat menunjukkan ribuan produk hanya dalam hitungan menit, kemampuan untuk mengatakan “tidak perlu” menjadi semakin berharga.
Kita tidak harus membeli setiap barang yang muncul di layar.
Kita tidak harus mengganti barang yang masih berfungsi hanya karena model baru tersedia.
Kita juga tidak harus memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Pada akhirnya, gaya hidup yang lebih sehat bukan tentang memiliki barang sesedikit mungkin.
Melainkan memiliki barang yang memang memiliki fungsi dan nilai dalam kehidupan kita.
Jika sebuah barang benar-benar dibutuhkan, belilah.
Jika barang lama masih berfungsi, gunakan.
Jika hanya tertarik karena tren, tunggu.
Dan jika setelah menunggu keinginan tersebut hilang, mungkin sejak awal Anda memang tidak membutuhkannya.
Di tengah budaya konsumsi yang semakin cepat, mungkin kemewahan baru bukan lagi kemampuan membeli lebih banyak.
Melainkan kemampuan menentukan apa yang sebenarnya cukup.