Belanja online memang praktis, tetapi data pribadi perlu dijaga. Simak cara melindungi data pribadi saat belanja online agar akun dan transaksi lebih aman.
Belanja Online Makin Praktis, Tapi Data Pribadi Jangan Ikut “Dibelanjakan”
Belanja online sudah menjadi bagian dari kehidupan digital masyarakat.
Cukup membuka smartphone, mencari barang, memilih toko, memasukkan alamat, melakukan pembayaran, lalu menunggu paket datang. Proses yang dahulu membutuhkan perjalanan ke toko kini dapat dilakukan dari rumah dalam hitungan menit.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: setiap transaksi digital juga melibatkan data pribadi.
Nama, nomor telepon, alamat pengiriman, alamat email, informasi akun, hingga data pembayaran dapat menjadi bagian dari aktivitas transaksi. Dalam kondisi tertentu, pengguna juga mungkin diminta melakukan verifikasi identitas.
Artinya, keamanan belanja online bukan hanya soal apakah barang akan dikirim atau tidak.
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Ke mana data kita pergi, siapa yang memprosesnya, dan bagaimana cara kita menjaganya?
Pemerintah Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) sebagai salah satu landasan hukum pelindungan data pribadi. Prinsip yang diatur antara lain mencakup pengumpulan data secara terbatas dan spesifik, pemrosesan sesuai tujuan, serta kewajiban menjaga keamanan data dari akses atau penggunaan yang tidak sah.
Di sisi lain, tanggung jawab keamanan tidak hanya berada pada penyedia layanan.
Pengguna juga perlu membangun kebiasaan digital yang lebih hati-hati.
Berikut panduan praktis yang dapat diterapkan ketika berbelanja melalui marketplace, situs toko online, maupun layanan digital lainnya.
Mengapa Data Pribadi Penting Saat Belanja Online?
Ketika membeli barang secara langsung di toko fisik, informasi yang diberikan kepada penjual mungkin relatif terbatas.
Belanja online berbeda.
Agar pesanan dapat diproses, platform atau penjual membutuhkan sejumlah informasi tertentu. Misalnya nama penerima, alamat, dan nomor telepon.
Data tersebut memiliki fungsi yang jelas.
Alamat diperlukan untuk pengiriman. Nomor telepon dapat digunakan untuk komunikasi terkait pesanan. Informasi akun diperlukan untuk mengelola transaksi.
Masalah muncul ketika seseorang memberikan data lebih banyak daripada yang sebenarnya diperlukan.
Contohnya, ada seseorang menerima pesan yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan dan meminta foto identitas lengkap, kode OTP, atau informasi rekening dengan alasan “verifikasi pengiriman”.
Di sinilah kewaspadaan diperlukan.
Data pribadi seharusnya tidak diberikan hanya karena seseorang mengaku berasal dari perusahaan tertentu.
1. Pastikan Anda Berada di Situs atau Aplikasi yang Benar
Langkah pertama dalam menjaga keamanan transaksi adalah memastikan platform yang digunakan memang resmi.
Penipu dapat membuat halaman yang tampak menyerupai situs populer.
Logo dibuat mirip.
Warna dibuat serupa.
Nama domain dibuat menyerupai alamat resmi.
Bahkan tampilan halaman login dapat dibuat semirip mungkin.
Tujuannya sederhana: membuat korban memasukkan username, password, atau informasi lainnya.
Karena itu, jangan hanya melihat tampilan halaman.
Periksa alamat situs secara teliti.
Jika mendapatkan tautan melalui pesan, jangan langsung mengkliknya apabila Anda tidak yakin sumbernya.
Lebih aman membuka aplikasi resmi atau mengetik alamat situs secara langsung.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga memasukkan kebiasaan tidak mengklik tautan mencurigakan dan memperhatikan keamanan situs sebagai bagian dari langkah menghindari pencurian data pribadi.
2. Jangan Berikan OTP kepada Siapa Pun
OTP atau One-Time Password merupakan salah satu informasi yang harus diperlakukan seperti rahasia.
Kode tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari proses autentikasi atau verifikasi.
Karena itu, ketika seseorang menghubungi Anda dan meminta:
“Mohon kirimkan kode OTP yang baru masuk.”
jangan langsung menurutinya.
Apalagi jika orang tersebut mengaku sebagai:
Belanja Online Makin Praktis, Tapi Data Pribadi Jangan Ikut “Dibelanjakan”
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: setiap transaksi digital juga melibatkan data pribadi.
Artinya, keamanan belanja online bukan hanya soal apakah barang akan dikirim atau tidak.
Berikut panduan praktis yang dapat diterapkan ketika berbelanja melalui marketplace, situs toko online, maupun layanan digital lainnya.
Mengapa Data Pribadi Penting Saat Belanja Online?
Contohnya, ada seseorang menerima pesan yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan dan meminta foto identitas lengkap, kode OTP, atau informasi rekening dengan alasan “verifikasi pengiriman”.
“Mohon kirimkan kode OTP yang baru masuk.”
jangan langsung menurutinya.
Apalagi jika orang tersebut mengaku sebagai:
-
customer service;
-
kurir;
-
admin marketplace;
-
petugas bank;
-
penjual;
-
atau pihak lain.
Klaim identitas tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang benar-benar berasal dari organisasi tersebut.
Prinsip sederhana yang dapat digunakan adalah:
Kode verifikasi untuk akun Anda bukan untuk dibagikan melalui chat kepada orang lain.
Jika memang ada masalah transaksi, lakukan pengecekan melalui kanal resmi platform.
3. Gunakan Password yang Berbeda
Kesalahan lain yang masih sering terjadi adalah menggunakan password yang sama untuk banyak akun.
Misalnya password yang sama digunakan untuk:
-
email;
-
marketplace;
-
media sosial;
-
akun game;
-
dan layanan keuangan.
Kebiasaan tersebut menciptakan risiko berantai.
Jika satu akun berhasil diambil alih, akun lain yang menggunakan kombinasi password sama juga dapat ikut terancam.
Karena itu, buat password berbeda untuk layanan penting.
Untuk akun yang mendukungnya, gunakan password manager agar Anda tidak perlu menghafalkan seluruh password secara manual.
Password yang baik juga sebaiknya tidak menggunakan informasi yang mudah ditebak seperti:
-
tanggal lahir;
-
nama pasangan;
-
nama anak;
-
nomor telepon;
-
nama hewan peliharaan;
-
atau kombinasi sederhana seperti
123456.
4. Aktifkan Autentikasi Dua Faktor
Autentikasi dua faktor atau 2FA memberikan lapisan keamanan tambahan.
Dengan 2FA, password bukan satu-satunya faktor yang digunakan untuk mengakses akun.
Jika seseorang mengetahui password Anda, masih ada lapisan verifikasi tambahan yang perlu dilewati.
Tidak semua metode 2FA memiliki mekanisme yang sama. Beberapa layanan menggunakan aplikasi autentikator, sementara lainnya menggunakan kode melalui metode tertentu.
Jika tersedia, aktifkan fitur keamanan tambahan yang disediakan secara resmi oleh layanan tersebut.
Kementerian Komdigi juga mencantumkan autentikasi dua langkah sebagai salah satu langkah untuk mengurangi risiko pencurian data pribadi.
5. Jangan Mudah Percaya Promo yang Terlalu Menggiurkan
“Selamat! Anda mendapatkan hadiah.”
“Voucher Rp2 juta sudah tersedia.”
“Klik sekarang sebelum hangus.”
“Pesanan Anda tertahan. Bayar biaya tambahan melalui link berikut.”
Pesan seperti itu dapat membuat orang bereaksi secara spontan.
Masalahnya bukan promo murah atau hadiah itu sendiri.
Masalahnya adalah dorongan untuk bertindak cepat tanpa melakukan verifikasi.
Penipu sering memanfaatkan rasa penasaran, takut kehilangan kesempatan, atau kepanikan.
Jika menerima informasi terkait pesanan, buka aplikasi marketplace secara langsung.
Periksa status transaksi di dalam akun.
Jika tidak ada masalah di sana, jangan menjadikan pesan eksternal sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil tindakan.
6. Waspadai Pesan “Paket Tertahan”
Salah satu skenario yang mudah dipercaya adalah pesan terkait pengiriman.
Misalnya:
“Paket Anda tertahan karena alamat tidak lengkap.”
Kemudian penerima diminta membuka tautan dan mengisi informasi.
Padahal, pengiriman memang merupakan bagian dari aktivitas belanja online, sehingga pesan semacam itu terlihat masuk akal.
Cara memeriksanya sederhana.
Buka aplikasi tempat Anda melakukan pembelian.
Lihat nomor pesanan.
Periksa status pengiriman.
Bandingkan dengan informasi yang terdapat di pesan.
Jika informasi tidak sesuai, jangan terburu-buru mengikuti instruksi dalam pesan.
Kebiasaan memeriksa dari aplikasi resmi terlebih dahulu jauh lebih aman daripada langsung mengikuti tautan yang dikirim pihak lain.
7. Periksa Izin Aplikasi
Ketika menginstal aplikasi belanja, pengguna mungkin diminta memberikan sejumlah izin.
Tidak semua permintaan izin harus langsung diterima tanpa membaca.
Tanyakan:
Apakah izin tersebut memang diperlukan untuk fungsi aplikasi?
Misalnya, aplikasi yang membutuhkan akses kamera mungkin memiliki alasan jika memang digunakan untuk memindai QR atau mengambil foto.
Tetapi jika sebuah aplikasi meminta akses yang terasa tidak relevan dengan fungsi utamanya, pengguna sebaiknya berhati-hati.
Pada perangkat modern, izin aplikasi dapat diperiksa melalui pengaturan sistem.
Luangkan waktu beberapa menit untuk melihat aplikasi apa saja yang memiliki akses terhadap:
-
kamera;
-
mikrofon;
-
lokasi;
-
kontak;
-
foto;
-
file;
-
dan informasi lainnya.
Ini merupakan bagian dari kebiasaan menjaga privasi digital.
8. Jangan Menyimpan Informasi Sensitif di Tempat Sembarangan
Kemudahan digital sering membuat kita menyimpan informasi di banyak tempat.
Screenshot nomor kartu.
Foto identitas.
Foto dokumen.
Catatan password.
Bukti transaksi.
Masalahnya, galeri smartphone bukan tempat ideal untuk menyimpan informasi sensitif tanpa perlindungan.
Bayangkan smartphone hilang atau akun cloud berhasil diakses pihak lain.
Informasi yang tersimpan di dalamnya bisa ikut berisiko.
Karena itu, lakukan pemeriksaan secara berkala.
Hapus screenshot sensitif yang sudah tidak diperlukan.
Gunakan penyimpanan aman untuk dokumen penting.
Jangan menyimpan password dalam aplikasi catatan biasa tanpa perlindungan.
9. Hati-Hati Menggunakan Wi-Fi Publik
Wi-Fi gratis memang praktis.
Namun, pengguna perlu berhati-hati ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan informasi sensitif melalui jaringan publik yang tidak terpercaya.
Misalnya:
-
login akun penting;
-
mengakses layanan keuangan;
-
melakukan transaksi bernilai besar;
-
memasukkan password;
-
atau mengirim dokumen sensitif.
Jika Anda tidak yakin dengan keamanan jaringan, lebih baik menggunakan koneksi pribadi yang terpercaya.
Prinsipnya bukan berarti semua Wi-Fi publik pasti berbahaya.
Tetapi tingkat kepercayaan terhadap jaringan perlu dipertimbangkan sebelum melakukan aktivitas sensitif.
10. Periksa Kebijakan Privasi, Jangan Hanya Menekan “Setuju”
Kebijakan privasi memang sering panjang.
Bahkan bagi sebagian pengguna, membaca seluruh dokumen terasa melelahkan.
Namun, setidaknya pahami informasi dasar:
-
data apa yang dikumpulkan;
-
untuk tujuan apa data digunakan;
-
apakah data dibagikan kepada pihak lain;
-
berapa lama data disimpan;
-
dan bagaimana pengguna dapat mengelola haknya.
UU PDP mengatur sejumlah prinsip mengenai pemrosesan data pribadi, termasuk pemrosesan sesuai tujuan dan perlindungan terhadap akses, pengungkapan, pengubahan, penyalahgunaan, kerusakan, maupun kehilangan yang tidak sah.
Dengan kata lain, kebijakan privasi bukan sekadar halaman formal yang harus dilewati sebelum menggunakan aplikasi.
Dokumen tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah layanan memperlakukan data penggunanya.
11. Bedakan Data yang Dibutuhkan dan Data yang Tidak Perlu Dibagikan
Ini adalah kebiasaan yang sangat sederhana.
Sebelum memberikan informasi, tanyakan:
“Apakah data ini benar-benar dibutuhkan untuk transaksi?”
Misalnya, penjual membutuhkan nama dan alamat untuk mengirim barang.
Tetapi jika seseorang tiba-tiba meminta:
-
foto KTP;
-
selfie memegang KTP;
-
PIN;
-
password;
-
kode OTP;
tanpa penjelasan yang dapat diverifikasi, jangan langsung memberikannya.
Semakin banyak data yang tersebar, semakin luas pula permukaan risiko yang perlu dikelola.
Prinsip minimalisasi data menjadi semakin relevan di era transaksi digital.
12. Jangan Mengabaikan Notifikasi Keamanan
Jika marketplace, email, atau akun pembayaran memberi notifikasi:
“Login baru terdeteksi.”
atau:
“Password berhasil diubah.”
jangan langsung mengabaikannya.
Jika Anda memang tidak melakukan aktivitas tersebut, segera buka layanan melalui aplikasi atau situs resminya.
Kemudian:
-
periksa aktivitas akun;
-
ubah password;
-
keluarkan sesi dari perangkat yang tidak dikenal;
-
aktifkan 2FA jika belum aktif;
-
dan hubungi layanan resmi jika diperlukan.
Semakin cepat aktivitas mencurigakan diperiksa, semakin kecil kemungkinan masalah berkembang.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Memberikan Data?
Kesalahan bisa terjadi.
Yang penting adalah tidak panik dan segera melakukan tindakan pengamanan.
Jika Anda terlanjur memberikan password, ubah password secepatnya.
Jika password tersebut digunakan di layanan lain, ubah juga di layanan tersebut.
Jika kode OTP atau informasi autentikasi terlanjur diberikan, periksa keamanan akun dan hubungi kanal resmi layanan.
Jika terdapat aktivitas transaksi yang tidak Anda kenali, simpan bukti dan laporkan melalui kanal resmi penyedia layanan atau pihak terkait.
Jangan mempercayai orang kedua yang tiba-tiba menghubungi Anda dengan klaim:
“Saya bisa membantu mengembalikan akun Anda.”
Situasi setelah insiden keamanan justru dapat dimanfaatkan oleh penipu berikutnya.
Data Pribadi Bukan Hanya Nomor KTP
Banyak orang menganggap data pribadi hanya berarti KTP atau nomor identitas.
Padahal, informasi pribadi dapat mencakup berbagai jenis data yang berkaitan dengan seseorang.
Dalam konteks belanja online, beberapa informasi yang patut diperhatikan antara lain:
-
nama;
-
alamat;
-
nomor telepon;
-
email;
-
informasi akun;
-
data transaksi;
-
identitas;
-
informasi lokasi;
-
dan data lain yang dapat dikaitkan dengan seseorang.
Karena itu, jangan berpikir:
“Saya tidak pernah memberikan foto KTP, berarti data saya aman.”
Risiko privasi dapat berasal dari kombinasi berbagai informasi kecil.
Bagaimana Memilih Toko Online yang Lebih Aman?
Harga murah memang menarik.
Tetapi jangan menjadikan harga sebagai satu-satunya pertimbangan.
Periksa beberapa hal:
Profil toko
Lihat usia toko, aktivitas, dan informasi yang tersedia.
Ulasan
Baca ulasan secara keseluruhan, bukan hanya melihat jumlah bintang.
Metode pembayaran
Gunakan metode pembayaran yang tersedia secara resmi pada platform.
Komunikasi
Waspadai penjual yang meminta transaksi berpindah ke kanal pribadi tanpa alasan yang jelas.
Tautan
Jangan membuka tautan pembayaran atau verifikasi dari sumber yang meragukan.
Bukti transaksi
Simpan bukti pembelian dan pembayaran sampai transaksi selesai.
Tidak ada satu indikator yang dapat menjamin sebuah toko aman sepenuhnya.
Karena itu, gunakan beberapa tanda sekaligus ketika melakukan pemeriksaan.
Mengapa Literasi Digital Semakin Penting?
Teknologi membuat transaksi semakin cepat.
Tetapi semakin cepat sebuah aktivitas dilakukan, semakin mudah seseorang melakukan kesalahan karena bertindak secara spontan.
Kementerian Komdigi dalam berbagai program dan kebijakannya terus menempatkan keamanan serta pelindungan data sebagai bagian penting dari ekosistem digital. Pada 2026, pemerintah juga menyatakan tengah memfinalisasi pembentukan otoritas pelindungan data pribadi yang independen.
Selain itu, pemerintah melakukan pengawasan terhadap platform digital terkait kewajiban perlindungan pengguna. Pada April 2026, Kemkomdigi melaporkan pemeriksaan terhadap Meta dan Google dalam konteks dugaan pelanggaran kewajiban perlindungan pengguna.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan data bukan lagi isu yang hanya relevan bagi perusahaan teknologi.
Pengguna biasa juga perlu memahami cara menjaga informasi miliknya.
Checklist Aman Sebelum Checkout
Sebelum menekan tombol pembayaran, lakukan pemeriksaan singkat:
Tetapi jika seseorang tiba-tiba meminta:
-
foto KTP;
-
selfie memegang KTP;
-
PIN;
-
password;
-
kode OTP;
tanpa penjelasan yang dapat diverifikasi, jangan langsung memberikannya.
Prinsip minimalisasi data menjadi semakin relevan di era transaksi digital.
12. Jangan Mengabaikan Notifikasi Keamanan
Jika marketplace, email, atau akun pembayaran memberi notifikasi:
Kemudian:
-
periksa aktivitas akun;
-
ubah password;
-
keluarkan sesi dari perangkat yang tidak dikenal;
-
aktifkan 2FA jika belum aktif;
-
dan hubungi layanan resmi jika diperlukan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Memberikan Data?
Yang penting adalah tidak panik dan segera melakukan tindakan pengamanan.
Jika Anda terlanjur memberikan password, ubah password secepatnya.
“Saya bisa membantu mengembalikan akun Anda.”
Data Pribadi Bukan Hanya Nomor KTP
Banyak orang menganggap data pribadi hanya berarti KTP atau nomor identitas.
Padahal, informasi pribadi dapat mencakup berbagai jenis data yang berkaitan dengan seseorang.
Dalam konteks belanja online, beberapa informasi yang patut diperhatikan antara lain:
-
nama;
-
alamat;
-
nomor telepon;
-
email;
-
informasi akun;
-
data transaksi;
-
identitas;
-
informasi lokasi;
-
dan data lain yang dapat dikaitkan dengan seseorang.
-
Saya berada di aplikasi atau situs resmi.
-
Nama toko dan barang sudah diperiksa.
-
Harga dan biaya tambahan sudah jelas.
-
Saya tidak memberikan password atau OTP.
-
Metode pembayaran berasal dari platform resmi.
-
Saya tidak mengikuti tautan mencurigakan.
-
Alamat pengiriman sudah benar.
-
Saya memahami informasi yang diminta.
-
Bukti transaksi akan disimpan.
Checklist ini sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi keputusan impulsif.
5 Kebiasaan Digital yang Sebaiknya Mulai Sekarang
Jika tidak ingin mengingat terlalu banyak aturan, fokus pada lima kebiasaan berikut:
-
Gunakan password berbeda untuk akun penting.
-
Aktifkan autentikasi dua faktor.
-
Jangan pernah memberikan OTP atau PIN kepada orang lain.
-
Buka aplikasi resmi untuk memeriksa transaksi dan status pesanan.
-
Jangan memberikan data pribadi lebih banyak daripada yang diperlukan.
Lima kebiasaan tersebut dapat menjadi fondasi dasar keamanan digital sehari-hari.
Kesimpulan
Belanja online menawarkan kemudahan yang sulit ditolak.
Kita dapat mencari barang, membandingkan harga, membaca ulasan, membayar, dan memantau pengiriman tanpa harus meninggalkan rumah.
Namun, kenyamanan tersebut juga membuat data pribadi menjadi bagian penting dari aktivitas digital sehari-hari.
Karena itu, cara melindungi data pribadi saat belanja online tidak harus rumit.
Mulailah dari kebiasaan sederhana:
gunakan aplikasi resmi, buat password yang kuat dan berbeda, aktifkan 2FA, jangan membagikan OTP, periksa tautan sebelum membukanya, dan jangan memberikan data yang tidak diperlukan.
Jika menerima pesan terkait transaksi, jangan langsung percaya hanya karena pesan tersebut menggunakan logo atau nama perusahaan yang dikenal.
Buka aplikasi resmi dan lakukan pengecekan dari sana.
Indonesia sendiri telah memiliki UU PDP sebagai landasan pelindungan data pribadi, dengan prinsip antara lain pengumpulan data secara terbatas, pemrosesan sesuai tujuan, dan perlindungan terhadap penyalahgunaan atau akses yang tidak sah.
Pada akhirnya, keamanan digital bukan hanya persoalan teknologi.
Kebiasaan pengguna juga menjadi bagian penting dari pertahanan.
Belanja online boleh praktis.
Tetapi jangan sampai demi mendapatkan barang dengan cepat, kita justru memberikan terlalu banyak informasi kepada pihak yang tidak seharusnya menerimanya.