
Hujan deras kembali mengguyur Pulau Dewata pada Senin malam hingga Selasa dini hari, menyebabkan beberapa wilayah di Bali terendam banjir. Intensitas hujan yang tinggi selama hampir lima jam membuat saluran drainase kewalahan menampung debit air, mengakibatkan genangan di sejumlah jalan utama dan kawasan permukiman.
Menurut data yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, hujan dengan intensitas lebat disertai angin kencang tercatat terjadi di sebagian besar wilayah Bali sejak pukul 20.00 WITA hingga menjelang dini hari. BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang di sejumlah kabupaten/kota di Bali, termasuk Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.
Sejumlah Titik Banjir dan Dampaknya
Pantauan lapangan menunjukkan bahwa beberapa titik rawan kembali terendam. Di Kota Denpasar, banjir setinggi 40–60 sentimeter terjadi di Jalan Gunung Agung dan Jalan Mahendradata, menyebabkan kemacetan panjang karena banyak kendaraan roda dua mogok. Sementara itu, di Kabupaten Badung, banjir dilaporkan terjadi di kawasan Dalung dan sekitar Jalan Raya Kerobokan.
Sejumlah warga mengaku khawatir karena genangan air masuk ke dalam rumah. “Air mulai naik sekitar pukul 10 malam dan terus meninggi sampai dini hari. Kami terpaksa mengangkat perabotan ke tempat yang lebih tinggi,” ujar Made Suwita, salah satu warga Dalung, saat diwawancarai Selasa pagi.
Selain mengganggu aktivitas warga, banjir juga berdampak pada sektor pariwisata. Beberapa wisatawan yang menginap di kawasan Seminyak melaporkan kesulitan menuju bandara karena jalan-jalan tergenang dan lalu lintas macet. Hal ini memicu keluhan di media sosial, terutama dari wisatawan mancanegara yang khawatir ketinggalan jadwal penerbangan.
Faktor Penyebab Banjir
Ahli hidrologi dari Universitas Udayana, I Gusti Ngurah Arya, menjelaskan bahwa banjir di Bali sebagian besar dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan buruknya sistem drainase di beberapa kawasan. “Urbanisasi yang semakin masif tanpa perencanaan tata ruang yang matang membuat daya serap air menurun. Banyak daerah resapan berubah menjadi area komersial dan perumahan,” katanya.
Selain itu, fenomena cuaca ekstrem yang dipengaruhi oleh La Nina dan perubahan iklim global turut memperparah situasi. BMKG juga mencatat adanya peningkatan frekuensi hujan lebat di wilayah Bali dalam dua minggu terakhir.
Tanggapan Pemerintah Daerah
Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung menurunkan tim untuk melakukan evakuasi dan membantu warga terdampak. Kepala BPBD Bali, I Made Rentin, mengatakan pihaknya sudah menyiagakan perahu karet dan tim penyelamat di lokasi banjir yang paling parah.
“Kami fokus pada keselamatan warga terlebih dahulu. Sejumlah posko darurat juga sudah dibuka untuk menampung warga yang rumahnya terendam,” ujar Made Rentin. Ia menambahkan, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk membersihkan saluran drainase yang tersumbat sampah dan lumpur.
Pemprov Bali juga berencana mempercepat proyek perbaikan sistem drainase di beberapa titik rawan banjir yang selama ini menjadi masalah tahunan. “Kami akan lakukan evaluasi menyeluruh. Ini bukan hanya soal curah hujan, tetapi juga manajemen infrastruktur,” tambahnya.
Kesadaran Warga Jadi Kunci
Selain peran pemerintah, pakar lingkungan menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi risiko banjir. Sampah plastik yang menumpuk di saluran air masih menjadi masalah klasik di Bali. “Kesadaran membuang sampah pada tempatnya sangat penting. Jika saluran air tersumbat, risiko banjir semakin besar,” jelas Arya.
Beberapa komunitas lokal bahkan memanfaatkan momen ini untuk menggalakkan aksi bersih-bersih lingkungan. Di kawasan Sanur, sekelompok relawan turun ke lapangan membersihkan got dan saluran air yang tersumbat. Aksi ini mendapat apresiasi warga sekitar karena membantu memperlancar aliran air.
Potensi Dampak Terhadap Pariwisata
Sebagai destinasi wisata internasional, Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata. Banjir yang terjadi berulang kali dapat menurunkan kenyamanan wisatawan dan memengaruhi citra pariwisata Bali. Pelaku usaha pariwisata mendesak pemerintah untuk menyiapkan langkah cepat agar masalah banjir tidak berdampak panjang terhadap jumlah kunjungan wisatawan.
“Musim hujan seharusnya bisa diprediksi dan diantisipasi. Kami berharap pemerintah mempercepat proyek penanggulangan banjir agar tamu tidak kecewa dan batal berkunjung,” ujar I Wayan Sujana, pengelola hotel di Kuta.
Prakiraan Cuaca ke Depan
BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di Bali dalam tiga hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rendah dan dekat aliran sungai.
“Warga diharapkan mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG dan segera mengungsi jika air mulai naik,” kata Kepala BMKG Wilayah III, Cahyo Nugroho.
Kesimpulan
Banjir yang melanda Bali kali ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha pariwisata harus berkolaborasi memperbaiki sistem drainase, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta memperkuat infrastruktur agar masalah ini tidak berulang setiap tahun.
Meski hujan lebat merupakan fenomena alam yang tak dapat dihindari, dampaknya bisa diminimalisir melalui perencanaan tata kota yang baik dan partisipasi aktif seluruh pihak. Dengan langkah yang tepat, Bali diharapkan tetap menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, dan menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.